Sunday, January 24, 2016

TAWADHU' ITU BELUM SIRNA

TAWADHU' ITU BELUM SIRNA - Sobat Aswaja dimanapun berada, Biografi Ulama Se Nusantara , hadir untuk mengobati kerinduan kita kepada cerita atau ajaran berbagai salafusholihin di berbagai Nusantara yang tak pernah lekang oleh zaman. Dan melalui portal ini diharapkan setiap muda-mudi para pejuang Islam bangkit untuk menjadikan Islam yang rohmatan lilalamin sesungguhnya. Tanpa adanya kekerasan dan hanya kelembutan dalam penyampiananya. Serta diharapkan dapat tumbuh kembang kecintaan kita terhadap negara kita.

Sedikit mengulas tentang TAWADHU' ITU BELUM SIRNA, Kita dapat memmetik pelajaran yang terkandung didalamnya dan mampu mengamalkanya.Dengan TAWADHU' ITU BELUM SIRNA kita bisa ambil yang baiknya saja jadikan semuanya merupakan ajang untuk mencari ridho Allah Semata dan menjadikan kita menjadi manusia yang insan kamil mukamil. Baik dalm bernegara maupun berkeluarga.


Artikel yang dibaca di Biografi Ulama Se Nusantara: TAWADHU' ITU BELUM SIRNA

Ringkasan materi selanjutnya:


TAWADHU' ITU BELUM SIRNA


Kiai Masbuhin, mendengar namanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, KH. Masbuhin Faqih adalah Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin Suci Gresik. Santrinya ribuan, dan pesantrennya seringkali dikunjungi para ulama dan habaib kaliber dunia seperti Habib Salim asy-Syathiri dan Habib Umar bin Hafidz.
Apa yang kusaksikan pagi ini benar-benar menampar.
Saya dan beliau serta banyak tamu lainnya, pagi ini jam 8 (Kamis, 14/01) sama-sama di Ndalem (kediaman) Habib Luthfi bin Yahya, di Pekalongan. Sama-sama hendak sowan (menghadap) sang habib. Beliau sudah ada di Ndalem Habib Luthfi lebih awal dari saya. Beliau bertanya: "Sampeyan sudah sering sowan ke sini?"
"Tidak, Kiai. Baru sekali," jawabku.
Ditanya demikian, sangkaku beliau baru pertamakali sowan. Maka kutanya: "Kiai baru pertamakali sowan ke Abah Habib?"
Jawaban beliau berikut membuatku sangat malu pada diri sendiri. "Tidak, saya sudah dua kali sowan ke sini. Dan Habib Luthfi pernah ke pesantrenku tiga kali," tuturnya kalem.
Kemudian karena biasanya kusaksikan orang-orang yang hendak sowan ke Habib Luthfi mereka langsung naik ke ruangan atas, maka aku pun mengatakan kepada Kiai Masbuhin Faqih: "Kiai tidak langsung ke atas saja?"
"Mboten wantun kulo!" (Saya tidak berani), jawab beliau dengan ekspresi wajah serius dan tawadhu' yang tidak dibuat-buat. Jawaban beliau ini betul-betul menjadi tamparan yang sangat keras, melebihi tamparan yang awal! Seorang kiai besar, punya santri ribuan, dikenal oleh para ulama dan habaib kaliber dunia, sama sekali tidak merasa lebih tinggi dibanding para tamu lainnya! Beliau rela menunggu berjam-jam di ruangan bawah. Hanya berani ke atas jika Abah Habib sudah memanggilnya, bahkan jika harus mengantri paling akhir sekalipun. Ternyata "tawadhu'" itu belum sirna. (Sya'roni As-Samfuriy, Pekalongan 14 Januari 2016)



Bagai sobat Aswaja-TAWADHU' ITU BELUM SIRNA

Kami harap ulasan tadi yang mengenai tentang TAWADHU' ITU BELUM SIRNA dapat memberikan kesan buat anda, lebih-lebih dapat merubah cara berfikir kita selama ini tentang situasi dan kondisi yang terkait dengan masalah TAWADHU' ITU BELUM SIRNA, Mari membuka diri untuk mengembangkan dan menyiarakan Islam sesuai dengan ajaran para ulama Nusantara pendahulu kita dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan tenggang rasa. Untuk kemajuan portal ini silahkan corat-coret dimari salam Aswaja.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : TAWADHU' ITU BELUM SIRNA

0 comments:

Post a Comment