Thursday, January 28, 2016

Standar Keikhlasan

Standar Keikhlasan - Sobat Aswaja dimanapun berada, Biografi Ulama Se Nusantara , hadir untuk mengobati kerinduan kita kepada cerita atau ajaran berbagai salafusholihin di berbagai Nusantara yang tak pernah lekang oleh zaman. Dan melalui portal ini diharapkan setiap muda-mudi para pejuang Islam bangkit untuk menjadikan Islam yang rohmatan lilalamin sesungguhnya. Tanpa adanya kekerasan dan hanya kelembutan dalam penyampiananya. Serta diharapkan dapat tumbuh kembang kecintaan kita terhadap negara kita.

Sedikit mengulas tentang Standar Keikhlasan, Kita dapat memmetik pelajaran yang terkandung didalamnya dan mampu mengamalkanya.Dengan Standar Keikhlasan kita bisa ambil yang baiknya saja jadikan semuanya merupakan ajang untuk mencari ridho Allah Semata dan menjadikan kita menjadi manusia yang insan kamil mukamil. Baik dalm bernegara maupun berkeluarga.


Artikel yang dibaca di Biografi Ulama Se Nusantara: Standar Keikhlasan

Ringkasan materi selanjutnya:


Standar Keikhlasan

Sayyidina Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab ra berkata,
“Sesungguhnya pertolongan Allah kepada seorang akan disesuaikan dengan niatnya. siapapun yang ikhlas dalam niatnya maka pertolongan Allah akan sempurna baginya. Siapa pun yang kurang ikhlas dalam niatnya, maka pertolongan Allah akan disesuaikan dengan niatnya itu.
Maka harus diketahui, bahwa Allah memberi pertolongan bukan karena banyaknya amal-amal kebajikan dan banyaknya doa-doanya, tetapi tergantung dengan keikhlasannya.
Nabi Muhammad SAW bersabda kepada shahabat Mu’adz ibnu Jabal, “Ikhlaskan amal kebajikanmu meskipun hanya sedikit, maka engkau akan diberi pahala yang banyak.”
Baik niat maupun ikhlas, adalah ‘pekerjaan’ hati yang menjadi standar bagi diterima tidaknya amal ibadah seseorang. Berbeda dengan hukum halal atau haram, maka syariat Islam hanya menerapkannya terhadap sesuatu yang dhahir dan kasat mata.
Bahkan, jika ada seseorang yang berbohong di depan pengadilan, namun ia mampu menunjukkan bukti-bukti bagi pengakuannya, sekalipun bukti-bukti yang dimilikinya itu hakikatnya adalah palsu, namun jika tampak secara dhahir adalah benar, maka pengadilan Islam-pun tetap akan memenangkannya, karena hukum Islam itu dibangun atas perkara-perkara yang dhahir atau kasat mata.
Adapun bagi si pembohong yang dimenangkannya itu sejatinya telah dipersiapkan oleh Allah baju kebohongan dari neraka, yang kelak akan dikenakannya sejak ia menghuni makam kuburannya, hingga kelak saat menghadap kepada Allah SWT di hari pembalasan



Bagai sobat Aswaja-Standar Keikhlasan

Kami harap ulasan tadi yang mengenai tentang Standar Keikhlasan dapat memberikan kesan buat anda, lebih-lebih dapat merubah cara berfikir kita selama ini tentang situasi dan kondisi yang terkait dengan masalah Standar Keikhlasan, Mari membuka diri untuk mengembangkan dan menyiarakan Islam sesuai dengan ajaran para ulama Nusantara pendahulu kita dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan tenggang rasa. Untuk kemajuan portal ini silahkan corat-coret dimari salam Aswaja.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Standar Keikhlasan

0 comments:

Post a Comment