Sunday, January 24, 2016

Munajat-munajat dalam khushushi

Munajat-munajat dalam khushushi - Sobat Aswaja dimanapun berada, Biografi Ulama Se Nusantara , hadir untuk mengobati kerinduan kita kepada cerita atau ajaran berbagai salafusholihin di berbagai Nusantara yang tak pernah lekang oleh zaman. Dan melalui portal ini diharapkan setiap muda-mudi para pejuang Islam bangkit untuk menjadikan Islam yang rohmatan lilalamin sesungguhnya. Tanpa adanya kekerasan dan hanya kelembutan dalam penyampiananya. Serta diharapkan dapat tumbuh kembang kecintaan kita terhadap negara kita.

Sedikit mengulas tentang Munajat-munajat dalam khushushi, Kita dapat memmetik pelajaran yang terkandung didalamnya dan mampu mengamalkanya.Dengan Munajat-munajat dalam khushushi kita bisa ambil yang baiknya saja jadikan semuanya merupakan ajang untuk mencari ridho Allah Semata dan menjadikan kita menjadi manusia yang insan kamil mukamil. Baik dalm bernegara maupun berkeluarga.


Artikel yang dibaca di Biografi Ulama Se Nusantara: Munajat-munajat dalam khushushi

Ringkasan materi selanjutnya:


Munajat-munajat dalam khushushi

Buletin Al Fithrah [BAF]

Munajat-munajat dalam khushushi (secara literal atau harfiah) adalah berupa pengakuan, bukan permintaan. Di situ kita memberikan pengakuan tentang: siapa Allah SWT dengan menyebutkan sifat-sifat muliaNya
sekaligus mentauhidkanNya. Ketika kita bilang “Allaahumma yaa Qaadliyal haajaat”, secara tak langsung kita juga mengakui bahwa yang bisa memenuhi segala hajat kita tersebut hanyalah Allah SWT, dan seterusnya.
Namun sebenarnya, meskipun tak ada kalimat permintaannya, di situ kita juga meminta (secara halus). Yang kita mintakan tentu saja adalah sesuai dengan pengakuan serta pujian yang kita panjatkan kepadaNya.
Hal tersebut (secara tak langsung) adalah sebagai bentuk pengakuan yang mengukuhkan posisi Allah SWT sebagai Dzat yang Maha memenuhi hajat kita sebagai hambaNya, sekaligus juga pengakuan yang menempatkan posisi kita sebagai seorang yang sangat butuh, perlu, dan sangat bergantung kepadaNya dalam pemenuhan hajat-hajat kita. Jadi tak perlu dibikin detail menggunakan kalimat permintaan ini dan itu!. Tapi cukup akui saja kekurangan dan kelemahan kita, sekaligus akui keMaha-anNya.
Dalam sebuah hadits qudsiy --hadits yang secara makna bersumber dari Allah SWT namun redaksinya bersumber dari Nabi SAW-- riwayat Bukhari disebutkan salah satu sabda Nabi SAW yang berhubungan dengan hal ini. Beliau SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: “Barangsiapa yang lebih sibuk untuk berdzikir serta mengingatKu daripada memintakan permintaan (atau hajatnya) kepadaKu, maka akan Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih agung serta lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepadaKu (namun tidak ingat kepadaKu).” Ternyata ini landasan atau dalil penjelas tentang: kenapa munajatmunajat khushushi yang telah dibimbingkan oleh Yai Rori RA --seperti yang telah disebutkan contohnya di atas-- tidak ada kalimat ataupun redaksi yang berupa permintaan. Yang ada hanya memuji, mengingat, dan memberikan pengakuan terhadap sifat-sifat ke-Maha-anNya. Singkatnya, ajaran Beliau dalam konteks ini adalah tentang dzikir!.
Dalam sebuah pengajian berbahasa Jawa, Yai Rori RA juga pernah menjelasakan kandungan dari hadits Qudsi di atas. Beliau RA menyatkana bahwa seseorang yang berdoa atau memintakan hajat-hajatnya, dia sebenarnya ingat sih ingat kepada Allah SWT sebagai Dzat yang ia pintai. Akan tetapi ingatannya akan terpecah dan bahkan bukan tidak mungkin ia lebih cenderung atau lebih fokus kepada hajat yang sedang ia pintakan daripada mengingat Allah SWT. Salah fokus, istilah anak sekarang. Jadi, kalau seperti ini ceritanya, berarti bisa dibilang bahwa orang semacam itu masih ada (sedikit) 'bau-bau' su-ul adabnya dalam berdoa.
Berbeda dengan orang yang (ber)dzikir. Orang yang dzikir berarti dia telah memberikan i’tiraf atau pengakuan melalui dzikirnya. Ia telah memposisikan secara tepat tentang: siapa dirinya dan siapa Tuhannya?. Saya kutipkan contohnya dari kalimat langsung Beliau yang seolah menyimulasikan sebab-akibat dari dzikir, di mana di dalamnya terdapat pengakuan: "Ya Allah... pancen kulo niki apes ya Allah...", dijawab kaleh Gusti Allah..: "Aku sing Moho Kuat". Ngeeeeten.. "Ya Allah..kulo niki bodo ya Allah..(dijawab kalian Allah:) "Aku sing Moho Alim..tak wehi ilmu koen...". Lho..niku lek wong thariqah niku ngeten ...."
Karenanya pula, dalam hadits yang lain riwayat dari Al Hakim, Rasulullah SAW bersabda: "Afdlalud du'a- alhamdulillaah" (Doa yang paling utama adalah mengucap alhamdulillaH). Karena dengan mengucap alhamdulillaH, berarti seseorang telah memberikan pengakuan bahwa sesumpek dan seberat apapun problem atau permasalahan yang sedang ia hadapi, tetap saja nikmat dan karunia Allah SWT yang telah dianugerahkan kepadaNya masih jauh lebih besar dan tetap banyak serta melimpah. Tetap saja, sebesar apapun seseorang merasa kurang beruntung, di luar sana masih banyak yang kondisinya lebih tidak beruntung lagi dibanding dia. Ini yang kemudian ia akui dengan cara bersyukur mengucapkan hamdalah.



Bagai sobat Aswaja-Munajat-munajat dalam khushushi

Kami harap ulasan tadi yang mengenai tentang Munajat-munajat dalam khushushi dapat memberikan kesan buat anda, lebih-lebih dapat merubah cara berfikir kita selama ini tentang situasi dan kondisi yang terkait dengan masalah Munajat-munajat dalam khushushi, Mari membuka diri untuk mengembangkan dan menyiarakan Islam sesuai dengan ajaran para ulama Nusantara pendahulu kita dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan tenggang rasa. Untuk kemajuan portal ini silahkan corat-coret dimari salam Aswaja.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Munajat-munajat dalam khushushi

0 comments:

Post a Comment