Thursday, May 14, 2015

Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5

Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5 - Sobat Aswaja dimanapun berada, Biografi Ulama Se Nusantara , hadir untuk mengobati kerinduan kita kepada cerita atau ajaran berbagai salafusholihin di berbagai Nusantara yang tak pernah lekang oleh zaman. Dan melalui portal ini diharapkan setiap muda-mudi para pejuang Islam bangkit untuk menjadikan Islam yang rohmatan lilalamin sesungguhnya. Tanpa adanya kekerasan dan hanya kelembutan dalam penyampiananya. Serta diharapkan dapat tumbuh kembang kecintaan kita terhadap negara kita.

Sedikit mengulas tentang Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5, Kita dapat memmetik pelajaran yang terkandung didalamnya dan mampu mengamalkanya.Dengan Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5 kita bisa ambil yang baiknya saja jadikan semuanya merupakan ajang untuk mencari ridho Allah Semata dan menjadikan kita menjadi manusia yang insan kamil mukamil. Baik dalm bernegara maupun berkeluarga.


Artikel yang dibaca di Biografi Ulama Se Nusantara: Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5

Ringkasan materi selanjutnya:


Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5


Di dalam shalat sesungguhnya seorang hamba sedang mengingat Allah, Tuhannya, dan Dia pun ingat akan hamba-Nya. Mengenai itu Allah SWT berfirman: yang artinya “Dan tegakkanlah shalat untuk meng-ingat-Ku”. Yakni, agar engkau ingat kepada-Ku dan Aku pun senantiasa ingat kepadamu. Semua cara mengingat Allah SWTberarti ia mendekatkan diri kepada-Nya sebagai balas ingat kepada Allah SWT yang senantiasa ingat kepadanya.
Abu Hurairah r.a. menuturkan sebagai berikut. Saya mendengar Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam berkata, bahwa Allah SWT bersabda, “Shalat Kubagi dua dengan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya. Pada saat seorang hamba berucap alhamdu lillahi Rabbil-‘alamin, Allah SWT menjawab ‘hamba-Ku berpuji syukur kepada-Ku’. Pada saat hamba itu berucap Ar-RahmanAr-Rahim, Allah SWT menjawab ‘hamba-Ku memujiku-Ku’. Pada saat hamba itu berucap Maliki yaumiddin, Allah SWT menjawab ‘hamba-Ku mengagungkan-Ku’. Ada kalanya Allah SWT men­jawab ‘hamba-Ku berserah diri kepada-Ku’. Pada saat hamba itu ber­ucap Iyyaka na’budu wa iyyaka nastain, Allah SWT menjawab ‘itu antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya’. Pada saat hamba itu mengucapkan Wa ladh-dhallln, Allah SWT menjawab ‘itu untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.” (Diriwayat­kan oleh Muslim).
Di dalam hadits yang lain terdapat tambahan pada permulaannya. Pada saat hamba Allah SWT itu mengucapkan Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim, Allah SWT menjawab ‘hamba-Ku mengingat-Ku’ (disebut oleh An-Nawawl di dalam Majmu’, tetapi hadits ini ber-isnad lemah. Disebut juga oleh Darquthniy dan Baihaqiy).
Dalam shalat malaikat mengamini pembacaan Surah Al-Fatihah, dan barangsiapa yang mengucapkan amin bersama malaikat, ia ber-oleh ampunan atas dosa-dosanya yang lalu dan yang baru. mengenai itu Abu Hurairah r.a. menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam menyatakan:
اذا امن الامام فامنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه
“Bila Imam mengucapkan amin, hendaklah kalian mengucapkan amin juga dan malaikat di langit pun turut mengucapkannya. Jika dua pihak itu (malaikat dan orang yang shalat) berbarengan meng­ucapkannya, maka ia diampuni dosa-dosanya yang lama dan yang baru.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Abu Hurairah r.a. menuturkan juga bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam menyatakan:
اذا قال احدكم آمين وقالت الملائكة فى السماء فوافقت احداهما الاخرى غفر له ما تقدم من ذنبه
“Bila seorang dari kalian mengucapkan amin dan malaikat di la­ngit pun mengucapkannya, dan dua pihak itu berbarengan mengu­capkannya, maka ia (orang yang mengucapkan amin itu diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnad-nya).
Shalat mencegah orang yang menjalaninya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah SWT berfirman:
اتل مآاوحي اليك من الكتاب واقم الصلاة ان الصلاة تنهى عن الفخشاء والمنكرولذكر الله اكبر والله يعلم ما تصنعون
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab ( Al Qur’an) dan dirikanlah (amalkanlah Shalat. Sesungguhnya bahwa shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya ingat akan Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah lainnya). Dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan. (QS. Al-‘Anka-but: 45)
.Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya menegakkan (men-dirikan) shalat dan menjelaskan pengaruh shalat pada diri orang yang menegakkannya. Yaitu, bahwa shalat mencegah perbuatan keji—yakni perbiiatan-perbuatan yang diharamkan—dan tutur kata yang mung­kar. Perbuatan-perbuatan keji dan tutur kata yang mungkar dua-duanya merupakan sumber berbagai macam dosa.
Sumber : Terj. Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah
Karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani



Bagai sobat Aswaja-Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5

Kami harap ulasan tadi yang mengenai tentang Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5 dapat memberikan kesan buat anda, lebih-lebih dapat merubah cara berfikir kita selama ini tentang situasi dan kondisi yang terkait dengan masalah Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5, Mari membuka diri untuk mengembangkan dan menyiarakan Islam sesuai dengan ajaran para ulama Nusantara pendahulu kita dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan tenggang rasa. Untuk kemajuan portal ini silahkan corat-coret dimari salam Aswaja.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 26/Fadhilah Shalat ke-5

0 comments:

Post a Comment