Thursday, November 24, 2011

HARTA KARUN PARA NABI

HARTA KARUN PARA NABI - Sobat Aswaja dimanapun berada, Biografi Ulama Se Nusantara , hadir untuk mengobati kerinduan kita kepada cerita atau ajaran berbagai salafusholihin di berbagai Nusantara yang tak pernah lekang oleh zaman. Dan melalui portal ini diharapkan setiap muda-mudi para pejuang Islam bangkit untuk menjadikan Islam yang rohmatan lilalamin sesungguhnya. Tanpa adanya kekerasan dan hanya kelembutan dalam penyampiananya. Serta diharapkan dapat tumbuh kembang kecintaan kita terhadap negara kita.

Sedikit mengulas tentang HARTA KARUN PARA NABI, Kita dapat memmetik pelajaran yang terkandung didalamnya dan mampu mengamalkanya.Dengan HARTA KARUN PARA NABI kita bisa ambil yang baiknya saja jadikan semuanya merupakan ajang untuk mencari ridho Allah Semata dan menjadikan kita menjadi manusia yang insan kamil mukamil. Baik dalm bernegara maupun berkeluarga.


Artikel yang dibaca di Biografi Ulama Se Nusantara: HARTA KARUN PARA NABI

Ringkasan materi selanjutnya:


HARTA KARUN PARA NABI


Ada beberapa harta sejumlah nabi yang terus diburu arkeolog, ahli satelit mata-mata dan chasseur de tresor (pemburu harta karun). Sebagai contoh, Tabut Perjanjian Nabi Musa. Tabut merupakan tempat menyimpan ayat-ayat Allah yang difirmankan di Gurun Sinai.
Benda milik nabi yang juga diincar yakni singgasana Nabi Sulaiman. Takhta dari emas berhias berlian itu begitu elok. Model kiani Nabi Sulaiman agak tinggi. Sebab, bagian bawah berfungsi sebagai brankas jampi-jampi sihir.
Di zaman Nabi Sulaiman, segala bentuk sihir diharamkan. Semua berkas mantra sihir lantas disimpan di laci singgasana. Ketika Nabi Sulaiman mangkat, maka, manusia bersama jin berlomba mencuri naskah-naskah sihir itu.
Ada kesalahpahaman komunitas Yahudi terhadap Nabi Sulaiman. Mereka membencinya dengan alasan bahwa Raja Sulaiman penganut ilmu sihir. Padahal, Nabi Sulaiman bukan penyihir. Ia justru melarang sihir.
Cincin sekaligus istana Nabi Sulaiman menjadi pula incaran. Sementara tongkat yang secara turun-temurun dipakai para nabi terkadang ikut menambah sensasi cerita treasure hunter.
Di antara harta nabi yang paling fantastik dicari ialah the Great Noah Ark (kapal Nabi Nuh). Bahtera itu berlabuh di gunung Judi pada tahun 3393 sebelum Masehi.
Masalah ruwet lantaran tiada makhluk yang tahu di mana sekarang letak gunung Judi. Rekaman sejarah tak secara spesifik menunjukkan lokasi gunung Judi. Apalagi tiap masa, orang doyan mengganti nama daerah, danau atau gunung. Akibatnya, sejarawan kehilangan jejak perihal posisi sesuatu yang sedang ditelisik.
Abdullah Yusuf Ali dalam Holy Quran melihat adanya kesamaan kata Judi, Gudi maupun Kudi. Imajinasi tentu mengarah ke suku Kurdi yang berdiam di Irak serta perbatasan Turki. Tidak mustahil puak Kurdi adalah warga yang lahir di sisi gunung Judi.
Kala terdampar di gunung Judi pada 10 Muharram, Nabi Nuh didampingi putranya. Mereka yaitu Sam, Ham dan Yafits. Kan’an, anak Nabi Nuh yang lain tak selamat. Ia mati sebagai kafir pecundang lantaran tidak sudi mengikuti petuah sang ayah.
Kapal Nabi Nuh teramat unik. Bentuknya mirip telur bebek yang dibelah dua. Panjang kapal mencapai 89 meter. Sedangkan lebarnya 71 meter. Bagian depan maupun belakang sejajar sama tinggi.
Bahtera Nabi Nuh yang mirip bulatan didesain menghadapi amuk gelombang raksasa. Saat mengarungi banjir dengan topan berskala F5 (God Finger), kapal hanya berpenumpang 80 orang. Muatan lain yakni hewan-hewan yang berpasangan. Kemudian tumbuh-tumbuhan. Sisanya bahan makanan serta minuman untuk 80 kaum Muslim berikut kawanan binatang.
Bahan makanan sengaja banyak dimuat. Soalnya, setelah berlayar mereka tak serta-merta memperoleh makanan di daratan. Hal tersebut akibat banjir yang merusak tumbuh-tumbuhan. Hewan untuk disembelih juga tidak ada. Maklum, yang tersisa cuma dari bahtera.
Pembuatan kapal Nabi Nuh menunjukkan bahwa di era itu sains dan teknologi mulai mekar. Listrik dalam prototipe sederhana sudah digunakan. Ikhwal tersebut berkat adanya baterai elektrik purba buat menyepuh logam.
Metode pertukangan pun sangat maju. Masyarakat telah mengenal gergaji serta pasak. “Kami angkut Nabi Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari lembaran papan dan paku.” (al-Qamar: 13).
Tatkala merakit kapal, Nabi Nuh didampingi Jibril. Blue print bahtera itu langsung dari Allah. “Buatlah kapal dengan pengawasan serta petunjuk wahyu Kami.” (Hud: 37).
Nabi Nuh harus dipandu karena tantangan bahtera tersebut tergolong dahsyat. Pertama, konstruksi kapal mesti kuat menampung muatan. Kedua, bahtera bakal berhadapan dengan ombak selaba. Apalagi, kapal akan menghadapi terjangan gelombang selama 40 hari 40 malam. “Bahtera itu berlayar membawa mereka di tengah ombak yang bak gunung-ganang.” (Hud: 42).
Dunia mengalami kiamat skala kecil di zaman Nabi Nuh gara-gara kemaksiatan merajalela. Insan yang diseru agar mematuhi aturan Allah rupanya melecehkan Nabi Nuh. Nasihat yang diwartakan tak digubris. “Mereka menyumbat telinganya dengan jari masing-masing seraya menyelubungi muka dengan bajunya.” (Nuh: 7).
Di masa kini, spesies durhaka sejenis umat Nabi Nuh tidak terkira. Kejahatan menjadi berita sehari-hari. Orang sering berceloteh jika negara ini berasas hukum. Padahal, hukum memilih bulu. Teks bahwa hukum “tidak pandang bulu” hanya omong kosong belaka. Hukum teramat keras ditimpakan ke pihak lemah alias rakyat.
Di sisi lain, hukum melempem bila dikenakan ke pejabat. Apalagi, mereka saling melindungi. Kalau dipaksakan, maka, pengacaranya berkotek-kotek jika hukum kita mengenal asas praduga tidak bersalah.
Ketika kliennya ditetapkan sebagai tersangka, sontak massa bayaran berdemo. Mereka meminta masyarakat menghargai privasi atas dasar hak asasi manusia. Anehnya, kita tak pernah mendengar ada yang membela maling ayam atas nama HAM. Inilah wajah hukum yang berseliweran di hadapan kita.
Kalangan berduit atau pejabat seenaknya bercumbu mesra dengan penegak hukum. Sementara rakyat biasa tidak bisa berselingkuh dengan aparat hukum lantaran tak punya uang atau kuasa.
Dewasa ini, bukan kapal Nabi Nuh yang harus dicari. Tidak ada arti bagi manusia bila bangkai bahtera tersebut dipajang di museum. Tak muskil pula ada yang mencoleng patahan kapal itu sebagai jimat atau benda keramat.
Inti yang wajib digaungkan tiada lain memetik hikmah saga Nabi Nuh. Bumi luluh-lantak akibat manusia tidak sudi mendengar risalah Nuh Alaihissalam. Sang nabi lalu memohon kepada Allah supaya tak lagi ada orang kafir menghuni bumi.



Bagai sobat Aswaja-HARTA KARUN PARA NABI

Kami harap ulasan tadi yang mengenai tentang HARTA KARUN PARA NABI dapat memberikan kesan buat anda, lebih-lebih dapat merubah cara berfikir kita selama ini tentang situasi dan kondisi yang terkait dengan masalah HARTA KARUN PARA NABI, Mari membuka diri untuk mengembangkan dan menyiarakan Islam sesuai dengan ajaran para ulama Nusantara pendahulu kita dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan tenggang rasa. Untuk kemajuan portal ini silahkan corat-coret dimari salam Aswaja.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : HARTA KARUN PARA NABI

0 comments:

Post a Comment