Thursday, November 24, 2011

Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi?

Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi? - Sobat Aswaja dimanapun berada, Biografi Ulama Se Nusantara , hadir untuk mengobati kerinduan kita kepada cerita atau ajaran berbagai salafusholihin di berbagai Nusantara yang tak pernah lekang oleh zaman. Dan melalui portal ini diharapkan setiap muda-mudi para pejuang Islam bangkit untuk menjadikan Islam yang rohmatan lilalamin sesungguhnya. Tanpa adanya kekerasan dan hanya kelembutan dalam penyampiananya. Serta diharapkan dapat tumbuh kembang kecintaan kita terhadap negara kita.

Sedikit mengulas tentang Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi?, Kita dapat memmetik pelajaran yang terkandung didalamnya dan mampu mengamalkanya.Dengan Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi? kita bisa ambil yang baiknya saja jadikan semuanya merupakan ajang untuk mencari ridho Allah Semata dan menjadikan kita menjadi manusia yang insan kamil mukamil. Baik dalm bernegara maupun berkeluarga.


Artikel yang dibaca di Biografi Ulama Se Nusantara: Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi?

Ringkasan materi selanjutnya:


Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi?



INILAH.COM, Jakarta - Harta karun di perairan Cirebon disebut milik Dinasti Fatimiyah keturunan Nabi Muhammad. Tapi ahli sejarah menilai benda yang mempunyai ciri dinasti itu belum tentu milik keturunan langsung nabi.
PT Paradigma Putra Sejahtera yang menemukan harta karun di perairan Cirebon mengungkapkan penemuannya termasuk batu permata besar yang konon milik Dinasti Fatimiyah. Dinasti itu disebut-sebut dari keluarga Nabi Muhammad yang hijrah ke Mesir.
Batu permata yang sangat berharga itu jumlahnya sangat terbatas di dunia. Menurut catatan, hanya ada 40 keping batu. Hasil pengangkatan di Cirebon menemukan ada 24 keping.
Ahli sejarah UI yang juga peneliti LIPI, Taufik Abdullah mengatakan, Dinasti Fatimiyah memang banyak dianggap keturunan nabi. Dinasti itu merupakan keturunan dari Fatimah, anak dari perkawinan Nabi Muhammad dengan Khadijah, yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Namun, ia mengingatkan benda yang mempunyai ciri dinasti itu belum tentu milik keturunan langsung nabi.
Semua benda memiliki ciri yang dapat dikenali dari dinasti mana mereka berasal. Meskipun benda tersebut memiliki ciri Dinasti Fatimiyah namun bukan berarti milik keturunan nabi. Karena yang membawa benda tersebut adalah pedagang. Dalam sebuah dinasti pun banyak sekali pencampuran budaya. Tidak bisa diketahui mana keturunan asli dan mana yang bukan, jelasnya saat dihubungi di Jakarta Rabu (5/5).
Taufik mengatakan ada beberapa hal yang bisa menjadi penentu siapa pemilik benda tersebut. Jika pada benda tersebut ada tulisan nama atau bin dan binti maka kita bisa melacak siapa pemilik benda tersebut, jelasnya.
Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Soleh mengatakan masuknya Dinasti Fatimiyah di Indonesia bisa dianggap sebagai hal yang baik, mengingat Kerajaan Fatimiyah merupakan kerajaan besar yang berhasil melawan Inggris.
Kalau benar ini Dinasati Fatimiyah, kenyataan ini cukup bagus berarti kita bisa semakin mengetahui lebih detail datangnya Islam dan mungkin bisa menelusuri lebih jelas, apa saja yang mereka lakukan di Indonesia mengingat mereka adalah kerajan besar yang pernah melawan Inggris, kata Asrorun saat dihubungi via telepon.
Asroroun menjelaskan kerajaan Fatimiyah memang berada di Mesir dan pada abad 10-11 mengalami kejayaan. Sedangkan masuknya Islam dari banyaknya pedagang yang datang ke Indonesia.
Ini merupakan bagian dari proses dakwah. Tidak hanya pedagang Mesir, banyak pula pedagang India dan China yang masuk ke sini dan menyebarkan agama, jelas Asrorun.
Dinasti Fatimiyah ini adalah khalifah yang menguasai Syria ke barat hingga Maroko. Universitas Al-Azhar yang terkenal di Mesir misalnya, merupakan lembaga yang di bentuk masa Dinasti Fatimiyah.
Mengenai sejarahnya, menurut Taufik Abdulah, pedagang arab dari abad 8 dilaporkan pernah datang ke Indonesia oleh Ibnu Khordhabeh. Kemudian pada abad 9 juga ada bangsa Arab yang memperkenalkan Sriwijaya dengan nama Sribuza. Selanjutnya yang terkenal adalah keterangan Ibnu Batutah di abad 11 di Samudera Pasai.
Pedagang Arab sendiri menyebar ke berbagai wilayah Asia melalui Teluk Persia sampai wilayah Canton, China. Oleh karena itu, Taufik menyayangkan benda bernilai sejarah diperjualbelikan.
Sebaiknya benda berharga tidak dijual. Ini bisa jadi harta benda negara kita agar anak cucu kita bisa mengetahui sejarah lebih dalam, ujar Taufik. Soal apakah harta karun yang ditemukan di perairan Cirebon asli milik keturunan Nabi Muhammad, menurut Taufik, untuk membuktikan cukup sulit.
Kalau dinasti bisa dipastikan, namun soal pemilik asli cukup sulit. Di salah satu museum Turki, pernah disebutkan soal rambut nabi ataupun pedang nabi. Namun hingga kini tidak ada pembuktiannya, kata Taufik. [ito/mdr][[indosat]]

sumber : http://www.inilah.com/read/detail/513801/harta-karun-cirebon-milik-keturunan-nabi



Bagai sobat Aswaja-Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi?

Kami harap ulasan tadi yang mengenai tentang Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi? dapat memberikan kesan buat anda, lebih-lebih dapat merubah cara berfikir kita selama ini tentang situasi dan kondisi yang terkait dengan masalah Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi?, Mari membuka diri untuk mengembangkan dan menyiarakan Islam sesuai dengan ajaran para ulama Nusantara pendahulu kita dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan tenggang rasa. Untuk kemajuan portal ini silahkan corat-coret dimari salam Aswaja.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Harta Karun Cirebon Milik Keturunan Nabi?

0 comments:

Post a Comment